BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hakikat manusia
diartikan sebagai ciri-ciri karakteristik, yang secara prinisipil (jadi bukan
hanya gradual) membedakan
manusia dari hewan. Meskipun antara manusia dengan hewan banyak kemiripan
terutama jika dilihat dari segi biologisnya.
Bentuknya (misalnya orang hutan), bertulang
belakang seperti manusia, berjalan tegak dengan menggunakan kedua kakinya,
melahirkan dan menyusui anaknya,pemakan segala, dan adanya persamaan metabolism
dengan manusia. Bahkan beberapa filosof seperti Socrates menanamkan manusia itu
Zoon Politicon (hewan yang bermasyarakat), Maz Scheller menggambarkan
manusia sebagai Das Kranke Tier (hewan yang sakit) (Drijakarta, 1962:138 yang
selalu gelisah dan bermasalah.
Kenyataan dan pernyataan
tersebut dapat menimbulkan kesan yang keliru, mengira bahwa hewan dan manusia
itu hanya berbeda secara gradual, yaitu suatu perbedaan yang dengan melalui
rekayasa dapat dibuat menjadi sama keadaanya. Misalnya air karena perubahan
temperature lalu menjadi es batu. Seolah-olah dengan kemahiran rekayasa
pendidikan orang utan dapat dijadikan
manusia. Upaya manusia untuk mendapatkan keterangan bahwa hewan tidak identik
dengan manusia telah ditemukan. Charle Darwin (dengan teori evolusinya) telah
berjuang untuk menemukan bahwa manusia berasal dari primat atau kera, tetapi
ternyata gagal. Ada misteri yang dianggap menjembatani proses perubahan dari
primat ke manusia yang tidak di sanggap diungkapkan yang disebut The Missing
Link dapat dijelaskan. Jelasnya tidak ditemukan bukti-bukti yang
menunjukkan bahwa manusia muncul sebagai bentuk ubah dari primat atau kera
melalui proses evolusi yang bersifat gradual.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang yang telah dikemukakan, maka penulis dapat merumuskan masalah
dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut :
1.
Apa yang di
maksud hakikat manusia?
2.
Bagaimana
konsep hakikat manusia secara islam?
3.
Bagaimana
aplikasi pengembangan dimensi hakikat manusia?
C. Tujuan
1.
Mengetahui
hakikat manusia
2.
Menelaah konsep
hakikat manusia berdasarkan islam
3.
mengetahui
aplikasi pengembangan dimensi hakikat manusia
D. Manfaat Makalah
Makalah ini semoga dapat bermanfaat bagi seluruh mahasiswa dalam
menunjang materi perkuliahan, khususnya bagi mata perkuliahan Pendidikan
kewarganegaraan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian hakikat manusia dan pengembangannya
Sasaran pendidikan adalah manusia. Pendidikan bermaksud membantu
peserta didik untuk menumbuhkembangkan potensi-potensi kemanusiaannya. Potensi
kemanusiaan merupakan benih kemungkinan wujudnya jika ditanam dengan baik,
pasti menjadi pohon mangga dan bukannya menjadi pohon jambu.
Tugas mendidik hanya mungkin dilakukan dengan
benar dan tepat tujuan, jika pendidik memiliki gambaran yang jelas tentang
siapa manusia itu sebenarnya. Manusia cirri khas yang secara prinsipil berbeda
dari hewan. Ciri khas manusia yang membedakannya dari hewan terbentuk dari
kumpulan terpadu (integerated) dari apa yang disebut sifat hakikat manusia.
Disebut sifat hakikat manusia karena secara hakiki sifat tersebut hanya
dimiliki oleh manusia dan tidak terdapat pada hewan. Pemahaman pendidik
terhadap sifat hakiki manusia akan membentuk peta tentang karakteristik
manusia. Peta ini kan menjadi landasan serta memberikan acuan baginya dalam
bersikap, menyusun strategi,metode, dan teknik, serta memilih pendekatan dan
orientasi dalam merancang dan melaksanakan komunikasi transaksional di dalam
interaksi edukatif. Dengan kata lain, dengan menggunakan peta tersebut sebagai
acuan seorang pendidik tidak mudah terkecoh ke dalam bentuk-bentuk
transaksional yang patologis dan berakibat merugikan subjek didik.
Alasan kedua mengapa
gambaran yang benar dan jelas tentang manusia itu perlu dimiliki oleh pendidik
adalah karena adanya perkembangan sains dan teknologi yang sangat pesat dewasa
ini, lebih-lebih pada masa mendatang. Memang banyak manfaat yang dapat diraih
bagi kehidupan manusia darinya. Namun, disisi lain tidak dapat diraih bagi
kehidupan manusia darinya. Namun, disisi lain tidak dapat dilakukan akan adanya
dampak negatif, manusiyang terkadang tanpa disadari sangat merugikan bahkan
mungkin mengancam keutuhan eksistensi manusia, seperti ditemukannya bom kimia
dan bakteri,video, dan DBS (Direct Broad-casting System), rekayasa genetika dan
lain-lain, yang digunakan secara tidak bertanggung jawab.
B. Sifat Hakikat Manusia
Sifat
hakikat manusia menjadi bidang kajian filsafat, khususnya filsafat antropologi.
Hal ini menjadi keharusan oleh karena pendidikan bukanlah sekadar soal praktek
melainkan praktek yang berlandasan dan bertujuan . Sedangkan landasan
dan tujuan pendidikan itu sendiri sifatnya filosofisnormatif. Bersifat filosofis
karena untuk mendapatkan landasan yang kukuh diperlukan adanya kajian yang
besifat mendasar, sistematis, dan universal tentang cirri hakiki manusia. Bersifat
normatif karena pendidikan mempunyai tugas untuk menumbuhkembangkan sifat
hakiki manusia tersebut sebagai sesuatu yang bernilai luhur, dn hal itu menjadi
keharusan.
C. Konsep Manusia secara islam
Proses penciptaan/kejadian manusia
Berdasarkan Q.S. Al-Mu’minum ayat 12-14
ôs)s9ur $oYø)n=yz z`»|¡SM}$# `ÏB 7's#»n=ß `ÏiB &ûüÏÛ ÇÊËÈ §NèO çm»oYù=yèy_ ZpxÿôÜçR Îû 9#ts% &ûüÅ3¨B ÇÊÌÈ ¢OèO $uZø)n=yz spxÿôÜZ9$# Zps)n=tæ $uZø)n=ysù sps)n=yèø9$# ZptóôÒãB $uZø)n=ysù sptóôÒßJø9$# $VJ»sàÏã $tRöq|¡s3sù zO»sàÏèø9$# $VJøtm: ¢OèO çm»tRù't±Sr& $¸)ù=yz tyz#uä 4 x8u$t7tFsù ª!$# ß`|¡ômr& tûüÉ)Î=»sø:$# ÇÊÍÈ
Artinya :
12. dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari
suatu saripati (berasal) dari tanah.
13. kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang
disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).
14. kemudian air mani itu Kami jadikan
segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan
segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami
bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain.
Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.
fisik/materi ada lima tahap, yaitu (1) nuthfah ;
(2)’alaqah; (3)mudlghah atau pembentuk organ-organ penting, yang dalam Q.S
Al-Hajj ayat 5
ditegaskan adanya mudlghah mukhallaqah
(mudlghah yang berbentuk secara sempurna) dan mudlghah ghoiru mukhallaqah
(mudlghah yang cacat atau tidak terbentuk secara sempurna); (4)’idham (tulang);
dan (5) lahm (daging).
1. Pengertian Sifat Hakikat Manusia
Sifat hakikat
manusia diartikan sebagai ciri-ciri karakteristik, yang secara prinisipil (jadi
bukan hanya gradual) membedakan manusia dari hewan. Meskipun antara manusia dengan hewan
banyak kemiripan terutama jika dilihat dari segi biologisnya.
Bentuknya (misalnya orang hutan), bertulang
belakang seperti manusia, berjalan tegak dengan menggunakan kedua kakinya,
melahirkan dan menyusui anaknya,pemakan segala, dan adanya persamaan metabolism
dengan manusia. Bahkan beberapa filosof seperti Socrates menanamkan manusia itu
Zoon Politicon (hewan yang bermasyarakat), Maz Scheller
menggambarkan manusia sebagai Das Kranke Tier (hewan yang sakit)
(Drijakarta, 1962:138 yang selalu gelisah dan bermasalah.
Kenyataan dan
pernyataan tersebut dapat menimbulkan kesan yang keliru, mengira bahwa hewan
dan manusia itu hanya berbeda secara gradual, yaitu suatu perbedaan yang dengan
melalui rekayasa dapat dibuat menjadi sama keadaanya. Misalnya air karena
perubahan temperature lalu menjadi es batu. Seolah-olah dengan kemahiran
rekayasa pendidikan orang utan dapat
dijadikan manusia. Upaya manusia untuk mendapatkan keterangan bahwa hewan tidak
identik dengan manusia telah ditemukan. Charle Darwin (dengan teori evolusinya)
telah berjuang untuk menemukan bahwa manusia berasal dari primat atau kera,
tetapi ternyata gagal. Ada misteri yang dianggap menjembatani proses perubahan
dari primat ke manusia yang tidak di sanggap diungkapkan yang disebut The
Missing Link dapat dijelaskan. Jelasnya tidak ditemukan bukti-bukti yang
menunjukkan bahwa manusia muncul sebagai bentuk ubah dari primat atau kera
melalui proses evolusi yang bersifat gradual.
2. Wujud sifat manusia
Pada bagian ini akan
dipaparkan wujud sifat hakikat manusia yang tidak dimiliki oleh hewan yang
dikemukakan oleh paham eksistensialisme, dengan maksud menjadi masukan
dalam membenahi konsep pendidikan yaitu:
a.
Kemampuan
menyadari diri
b. Kemampuan bereksistensi
c.
Pemilikan kata hati
d.
Moral
e.
Kemampuan bertanggungjawab
f.
Rasa kebebasan (kemerdekaan)
g. Kesedihan melaksanakan kewajiban dan menyadari hak
h. Kemampuan menghayati kebahagiaan
a. Kemapuan Menyadari Diri
Kaum Rasionalis menunjuk kunci perbedaan manusai dengan hewan pada
adanya kemampuan menyadari diri yang dimiliki oleh manusia, maka manusia
menyadari bahwa dirinya (akunya) memiliki cirri khas atau karakteristik diri.
Hal ini menyebabkan manusia dapat membedakan dirinya dengan aku-aku yang lain
(ia, mereka) dan dengan mom-aku (lingkungan fisik ) di sekitarnya. Bahkan bukan
hanya membedakan , lebih dari itu manusia dapat membuat jarak (distansi) dengan
lingkungannya, baik itu berupa pribadi maupun nonpribadi/benda. Orang lain
merupakan pribadi-pribadi di sekitar, adapun pohon, batu, cuaca dan sebagainya
merupakan lingkungan nonpribadi.
Kemmpuan membuat jarak dengan lingkungannya berarah ganda, yaitu
arah keluar dan ke dalam.
Dengan arah keluar, aku memandang dan menjadikan lingkungan sebagai
objek, selanjutnya aku memanipulasi ke dalam lingkungan untuk memenuhi
kebutuhannya. Puncak aktivitas yang mengarah keluar ini data dipandang sebagai
gejala egoism. Dengan arah ke dalam, aku member status kepada lingkungan
(dalam hal ini kamu, dia, mereka) sebagai subjek yang berhadapan dengan aku
sebagai objek, yaitu isinya adalah pengabdian, pengorbanan, tenggang rasa
Yang lebih istimewa ialah manusi dikaruniaki kemmpuan untuk membuat
jarak (distansi) diri dengan akunya sendiri. Sungguh merupakan suatu anugerah
yang luar biasa, yang menempatkan posisi manusia sebagai makhluk yang memiliki
potensi untuk menyempurnakan diri.
b. Kemampuan bereksistensi
Kemampuan
menempatkan diri dan menerobos inilah yang disebut kemampuan bereksistensi ,
justru karena manusia memiliki kemampuan bereksistensi inilah maka pada manusi
terdapat unsure kebebasan. Dengan kata lain, adanya manusia bukan “ber-ada”
seperti hewan di dalam kandungan dan tumbuh-tumbuhan di dalam kebun, melainkan
“meng-ada” di muka bumi (Djkarkara, 1962: 61-62). Jika seandainya pada diri
manusia tidak terdapat kebebasan atau kemampuan bereksistensi, maka manusia itu
tidak lebih dari hanya sekadar “esensi” belaka, artinya ada hanya “ ber-ada”
dan tidak pernah “ meng-ada” atau “ber-eksistensi”. Adanya kemampuan
bereksistensi inilah pula yang membedakan manusia sebagai makhluk human dari
hewan selaku makhluk infra human, dimana hewan menjadi onderdil ndari
lingkungan, sedangkan manusia menjadi manajer terhadap lingkungannya.
Kemampuan bereksistensi perlu dibina melalui pendidikan.
Peserta didik di ajar agar belajar dari pengalamannya, belajar mengantisipasi
sesuatu keadaan dan peristiwa, belajar melihat prospek masa depan dari sesuatu,
serta mengembangkan daya imajinasi kreatif sejak dari masa kanak-kanak.
c. Kata hati (Consience of Man)
Kata hati atau conscience of man
juga sering disebut dengan istilah hati nurani, lubuk hati, suara hati, pelita
hati. Conscience ialah “ pengertian yang ikut serta” atau “ pengertian yang
mengikut perbuatan”. Manusia memiliki pengertian yang menyertai tentang apa
yang akan, yang sedang, dan yang telah dibuatnya, dan akibatnya bagi manusia
sebagai manusia.
Kata hati adalah kemampuan pada diri
manusia yang member penerangan tentang baik buruknya perbuatan sebagai manusia.
Orang yang memiliki kecerdasan akal
budi sehingga mampu menganalisi dan mampu membedakan yang baik/benar dengan
yang buruk/salah bagi manusia sebagai manusia disebut tajam kata hatinya.
Dan oleh sebabt itu kata hati adalah
kemampuan membuat keputusan tentang apa yang baik/benar dan yang buruk/salah
bagi manusia sebagai manusia. Dalam kaitan dengan moral (perbuatan), kata hati
yang tumpul menjadi kata hati yang tajam disebut pendidikan kata hati(gewetan
forming). Realisasinya dapat ditempuh dengan melatih akal kecerdasan dan
kepekaan emosi. Karena tujuannya agar orang memiliki keberanian moral (berbuat)
yang didasari oleh kata hati yang tajam.
d. Moral
Disini tampak
bahwa masih ada jarak antara kata hati dengan moral. Artinya seseorang yang
telah memiliki kata hati yang tajam belum otomatis perbuatannya merupakan
realisasi dari kata hatinya itu. Untuk menjembatani jarak yang mengantarai
keduanya masih ada aspek yang di perlukan yaitu kemauan . bukanhkan
banyak orang yang memiliki kecerdasan akal tetapi tidak cukup memiliki moral
(keberanian berbuat).
Oleh M.J Langeveld dinamakan De opvoedeling omzichzelfswil.
e. Tanggung jawab
Wujud bertanggung jawab
bermacam-macam. Ada tanggung jawab kepada diri sendiri,tanggung jawab kepada
masyarakat, tanggung jawab kepada Allah. Tanggung jawab kepada diri sendiri
berarti menanggung kata hati, misalnya dalam bentuk penyesalan yang mendalam.
Bertanggung jawab terhadap masyarakat berarti menanggung tuntutan norma-norma
sosial. Bentuknya berupa sanksi-sanksi sosial seperti cemoohan masyarakat,
hukuman penjara. Bertanggung jawab kepada Allah berarti menanggung tuntutan
norma-norma agama, misalnya perasaan berdosa dan terkutuk.
Disini
tampak betapa eratnya hubungan antara kata hati, moral, dan tanggung jawab.
Kata hati member pedoman, moral melakukan, dan tanggung jawab merupakan
kesediaan meneriman konsekuensi dari perbuatan.
f. Rasa Kebebasan
Mereka
adalah rasa bebas(tidak merasa terikat
oleh sesuatu), tetapi sesuai dengan tuntutan kodrat manusia. Dalam pernyataan
ini ada dua hal yang kelihatannya saling bertentangan yaitu “rasa bebas” dan
“sesuai dengan tuntutan kodrat manusia” yang bearti ada ikatan.
Merdeka
tidak sama dengan berbuat bebas tanpa ikatan. Perbuatan bebas membabi buat
tanpa memperhatikan petunjuk kata hati, sebenarnya hanya merupakan kebebasan
semu. Sebab hanya kelihatannya bebas, tetapi sebenarnya justru tidak bebas,
karena perbuatan seperti itu segera disusul dengan sanksi-sanksinya.
Jika
kemerdekaan berhubungan erat dengan kata hati dan moral. Seseorang mengalami
rasa merdeka apabila segenap perbuatannya (moralnya) sesuai dengan apa yang
dikatakan oleh kata hatinya yaitu kata hati yang sesuai dengan tuntutan kodrat
manusia karena perbuatan seperti itu tidak sulit atau siap sedia untuk
dipertanggung jawabkan dan tidak akan sedikit pun menimbulkan kekhawatiran
(rasa ketidakmerdekaan).
g. Kewajiban dan Hak
Kewajiban dan hak adalah dua macam gejala yang
timbul sebagai manifestasi dari manusia sebagai makhluk sosial. Yang satu ada
hanya oleh karena adanya yang lain. Tak ada hak tanpa kewajiban. Jika seseorang
mempunyai hak untuk menuntut sesuatu maka tentu ada pihak lain yang
berkewajiban untuk memenuhi hak tersebut (yang pada saat itu belum dipenuhi).
Kewajiban ada boleh karena ada pihak lain yang harus dipenuhi haknya. Pada
dasarnya, hak itu adalah sesuatu yang masih kosong. Artinya meskipunhak tentang
sesuatu itu ada, belum tentu seseorang mengetahuinya (misalnya hak memperolah
perlindungan hukum). Dan meskipun sudah diketahui, belum tentu orang mau mempergunakannya (misalnya hak cuti
tahunan). Namun terlepas dari persoalan apakah hak itu ada pihak diketahui atau
tidak, digunakan atan tidak, dibalik itu tetpa ada pihak yang berkewajiban
untuk bersiap sedia memenuhinya.
Dalam
realitas hidup sehari-hari, umumnya hak diasosiasikan dengan sesuatu yang
menyenangkan, sedangkan kewajiban dipandang dengan sesuatu beban. Benarkah
kewajiban menjadi beban manusia? Ternyata bukan beban melainkan suatu keniscayaan
(Drijarkara, 1978:24-27). Artinya selama seorang menyebut dirinya manusia
dan mau dipandang sebagai manusia, maka kewajiban itu menjadi keniscayaan
baginya. Sebab jika mengelakkannya maka ia berarti mengingkari kemanusiaannya
(yaitu sebagai kenyataan makhluk sosial). Karena itu seseorang yang semakin
menyatu dengan kewajiban, nilai, maka martabat kemanusiaannya semakin tinggi di
mata masyarakat. Dengan kata lain melaksanakan kewajiban itu adalah sesuatu keluhuran.
Alangkahkah luhurnya seorang guru yang melaksanakan kewajiban sebaik-baiknya
sebagai guru (tanpa pamrih).
Melaksanakan
kewajiban berarti terikat kepada kewajiban, tetapi anehnya yang sesungguhnya
bukan keanehan manusia memilihnya. Mengapa ? sebabnya adalah karena
melaksanakan kewajiban berarti meluhurkan diri sebagai manusia. Atau merasa baru
manusia bila menaati kewajiban.
Dilihat
dari segi ini wajib bukanlah ikatan melainkan keniscayaan. Karena wajib adalah
keniscayaan, maka terhadap apa yang diwajibkan manusia menjadi tidak
merdeka. Mau atau tidak harus menerimanya. Tetapi dengan keniscayaan itu
sendiri manusia bisa taat dan bisa juga melanggar. Ia merdeka untuk memilihnya
dengan konsekuensi jika taat akan meningkat martabatnya sebagai manusia, dan
jika melanggar akan merosot martabatnya sebagai manusia.
Pemenuhan
hak dan pelaksanaan kewajiban bertalian erat dengan soal keadilan . dalam
hubungan ini mungkin dapat dikatakan bahwa keadila terwujud bila hak sejalan
dengan kewajiban. Karena pemenuhna hak dan pelaksaan kewajiban dibatasi oleh
situasi dan kondisi, yang berarti tidak seluruh hak dapat dipenuhi dan tidak
segenap kewajiban dapat sepenuhnya dilakukan, maka hak asasi manusia harus
diartikan sebagai cita-cita, aspirasi-aspirasi atau harapan-harapan yang
berfungsi untuk member arah pada segenap usaha menciptakan keadilan.
Disiplin
diri menurut Selo Soemardjan meliputi 4 aspek:
a. Disiplin rasional, yang bila terjadi pelanggaran menimbulkan rasa
salah
b.
Disiplin sosial, jika dilanggar menimbulkan rasa malu
c. Disiplin afektif, jiks
dilanggar menimbulkan rasa gelisah
d.
Disiplin agama, jika terjadi pelanggaran
menimbulkan rasa berdosa
Keempat macam disiplin tersebut perlu
ditanamkan pada peserta didik dengan disiplin agama sebagai titik tumpu.
h. Kemampuan Menghayati Kebahagiaan
Kebahagiaan adalah suatu istilah yang
lahir dari kehidupan manusia. Penghayatan hidup yang disebut “kebahagiaan” ini meskipun tidak mudah untuk dijabarkan
tetapi tidak sulit untuk dirasakan. Dapat disuga, bahwa hampir setiap orang
pernah mengalami rasa bahagia.
Sebagian orang mungkin menganggap
bahwa seseorang yang sedang mengalami rasa senang atau gembira itulah sedang
mengalami kebahagiaan.
Sebagian lagi menganggap bahwa rasa
senang hanya merupakan aspek dari kebahagiaan, sebab kebahagiaan sifatnya lebih
permanen dari perasaan senang yang sifatnya lebih temporer.
Proses integrasi dari kesemuanya itu ( yang menyenangkan maupun
yang pahit) menghasilkan suatu bentuk penghayatan hidup yang disebut “ bahagia”

Kebahagiaan
sebagai hasil perpaduan dari pengalaman yang menyenagkan (+)
Dengan yang
pahit (-)dan antara proses dengan hasil
Peliknya
persoalan mungkin juga disebabkan oleh karena kebahagiaan itu lebih dapat
diraskan daripada dipikrkan. Pada saat menghayati kebhagiaan, aspek rasa
lebih berperan daripada aspek nalar.
Bukankah
seseorang hanya mungkin menghayati kebahagiaan jika ia mengerti tentang sesuatu
yang menjadi objek rasa bahagia itu? Juga orang yang sedang terganggu pikiran
atau tidak beres kesadarannya tidak akan sanggup menghayati kebahagiaan.
Pendidikan
mempunyai peranan penting sebagai wahana untuk mencapai kebahagiaan, utamanya
pendidikan keagamaan.
Manusia
adalah makhluk yang serba terhubung, dengan masyarakat, lingkungannya, dirinya
sendiri, dan Tuhan.
Dalam
krisis total manusia mengalami krisis hubungan dengan masyarakat, dengan
lingkungannya, dengan diri sendiri dan dengan Tuhannya. Tidak ada pengenalan
dan pemahaman yang saksama terhadap dengan apa atau siapa ia berhubungan. Tidak
ada kemesraan hubungan dengan apa atau dengan siapa ia berhubungan.
Manusia
yang menghayati kebahagiaan adalah pribadi manusia yang menghayati segenap
keadaan dan kemampuannya. Manusia menghayati kebahagiaan apabila jiwanya bersih
dan stabil, jujur, bertanggung jawab, mempunyai pandangan hidup dan keyakinan
hidup yang kukuh mereliasikan dengan cara yang realitas, demikian pandangan Max
Scheler.
Kepribadian
harus serasi dan berimbang. Antara segenap aspek kepribadian terdapat perimbangan
yang selaras. Begitu juga antara kemampuan rohani dan jasmani, antara cipta,
rasa, dan karsa, antara cita-cita dengan kemampuan mencapainya, antara
kemampuan berikhtiar dengan kesediaan menerima hasilnya. Jiwa yang bersih
stabil dan kepribadian yang selaras membuka kemungkinan bagi terciptanya
suasana hidup penuh kedamaian. Pendidikan dapat dimanipulasikan untuk membina
terbentuknya kepribadian yang demikian.
D. Dimensi-Dimensi Hakikat Manusia serta Potensi, Keunikan, dan Dinamikanya
1. Dimensi Keindividualan
2. Dimensi
Kesosialan
3. Dimensi
Kesusilaan
4. Dimensi
Keberagamaan
1. Dimensi Keindividualan
Lysen mengartikan
individu sebagai “orang-seorang ’’, sesuatu yang merupakan suatu keutuhan yang
tidak dapat dibagi-bagi (in devide). Selanjutnya individu diartikan sebagi
pribadi. Setiap anak yang dilahirkan telah dikaruniai potensi untuk menjadi
berbeda dari yang lain, atau menjadi (seperti) dirinya sendiri. Tidak ada diri
individu yang identik di muka bumi.
Kesanggupan
untuk memikul tanggung jawab sendiri merupakan cirri yang sangat esensial dari
adanya individualitas pada diri manusia. M. J. Langeveld menyatakan bahwa
setiap anak memiliki dorongan untuk mandiri sangat kuat, meskipun di sisi lain
pada anak terdapat rasa tidak berdaya, sehingga memerlukan pihak lain
(pendidik) yang dapat dijadikan tempat bergantung untuk member perlindungan dan
bimbingan. Sifat- sifat sebagaimana digambarkan di atas yang secara potensial
telah dimiliki sejak lahir perlu ditumbuhkembangkan melalui pendidikan agar
bisa menjadi kenyataan. Sebab tanpa dibina melalui pendidikan, agar benih-benih
individualitas yang sangat berharga itu yang memungkinkan terbentuknnya suatu
kepribadian yang unik akan tetap tinggal laten. Dengan kata lain kepribadian
seseorang tidak akan terbentuk dengan semestinya sehingga seseorang tidak
memiliki warna kepribadian yang khas sebagai miliknya. Fungsi utama pendidikan
adalah membantu peserta didik untuk membentuk kepribadiannya. Atau menemukan
kediriannya sendiri. Pola pendidikan yang bersifat demokratis dipandang cocok
untuk mendorong bertumbuh dan berkembangnya potensi individualitas (misalnya
yang bersifat otoriter) dalam hubungan ini disebut pendidikan yang petalogis.
Dalam pengembangan individualitas melalui pendidikan tidak dibenarkan jika
pendidik memaksakan keinginannya kepada subjek didik bagaimana cara memperoleh
sesuatu dalam mengembangkan diri dengan cara memperoleh sesuatu dalam
mengembangkan diri dengan berpedoman pada prinsip ing ngarso sungtulodo, ing
madya mangun karso, tut wuri handayani.
2. Dimensi Kesosialan
Setiap bayi yang lahir dikaruniai potensi sosialitas. Demikian kata
M.J Langeveld (M.J Langeveld, 1955: 54) bahwa setiap anak dikarniai benih
kemungkinan untuk bergaul. Artinya setiap orang dapat saling berkomunikasi yang
pada hakikatnya di dalamnya terkandung unsur saling member dan menerima. Bahkan
menurut Langeveld, adanya kesediaan untuk saling member dan menerima itu
dipandang sebagai kunci sukses pergaulan. Adanya dorongan untuk menerima dam
member itu sudah menggejala mulai pada masa bayi . seorang bayi sudah dapat
menyambut atau menerima belaian ibunya dengan rasa senang. Kemudian sebagai
balasan ia dapat memberikan senyuman kepada lingkungannya, khususnya pada
ibunya. Kelak jika sudah dewasa dan menduduki status atau pekerjaan tertentu,
dorongan menerima dan member itu berubah menjadi kesadaran akan hak yang harus
diterima dan kewajiban yang harus dilaksanakan untuk kepentingan pihak lain
sebagai realisasi dari member.
Adanya dimensi kesosialan pada diri manusia tampak lebih jelas pada
dorongan untuk bergaul, setiap orang ingin bertemu dengan sesamanya. Betapa
kuatnya dorongan tersebut sehingga bila dipenjarakan merupakan hukuman yang
paling berat dirasakan oleh manusia, karena dengan diasingkan di dalam penjara
berarti diputuskannya dorongan bergaul tersebut secara mutlak. Immanuel Kant
seorang filosod tersohor bangsa Jerman mengatakan : manusia hanya menjadi
manusia jika berada di antara manusia . Kiranya tidak usah dipersoalkan bahwa
tidak ada seorang manusia pun yang dapat
hidup seorang diri lengakp dengan sifat hakikat kemanusiaannya di tempat
terasing yang terisolir. Hanya di dalam berinteraksi dengan sesamanya, dalam
saling menerima dan member, seseorang menyadari dan menghayati kemanusiaannya.
Bahwa bukti yang menunjukkan bahwa anak manusia tidak akan menjadi manusia bila
tidak berada diantara manusia, anatara lain cerita tentang manusia terpencil
yaitu anak-anak yang diketemukan oleh seorang pandita bangsa India yaitu Mr.
Singh, dalam sebuah gua waktu ia sedang berburu. Yang besar berumur 8 tahun dan
yang kecil berumur 1 ½ tahun. Yang kecil (Amala) kemudian meninggal, tetapi
yang besar ( Kamala) mencapai usia 17 tahun pada waktu ditangkap dan
memperlihatkan segala tingkah laku seekor serigala (Mayor Polak, 1959:21)
4. Dimensi Kesusilaan
Susila berasal dari kata su dan sila yang artinya
kepantasan yang cukup hanya berbuat yang pantas jika di dalam yang pantas atau
sopan itu misalnya terkandung kejahatan terselubung. Karena itu maka pengertian
susila berkembang sehingga memiliki perluasan arti menjadi kebaikan yang lebih.
Atau disebut dengan etiket (persoalan kepantasan dan kesopanan) dan etika (persoalan kebaikan). Keduanya
itu sangat berkaitan.
Ada dua hal yang berpendapat:
a.
Golongan yang
menganggap bahwa kesusilaan mencakup kedua-duanya . etiket tidak usah dibedakan
dari etika karena sama-sama dibutuhkan dalam kehidupan . kedua-duanya bertalian
erat.
b. Golongan yang memandang bahwa etiket perlu
dibedakan dari etika, karena masing-masing mengandung kondisi belum tentu baik,
dalam arti tidak merugikan orang lain . sebaliknya orang yang baik belum tentu
halus dalam hal kesopanan. Kesopanan menjadi minyak pelincir dalam pergaulan
hidup, sedang etika merupakan isinya. Kesopanan dan kebaikan masing –masing
diperlukan demi keberhasilan hidup dalam bermasyarakat.
Maka dari itu
kesusilaanndiartikan mencakup etika dan etiket.
Persoalan kesusilaan selalu berhubungan erat dengan nilai-nilai.
Pada hakikatnya manusia memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan susila .
Pemahaman dan pelaksanaan nilai
Dalam kenyataan hidup ada dua hal yang muncul
dari persoalan nilai, yaitu kesadarn dan pemahaman terhadap nilai dan
kesanggupan melankksanakan nilai. Idealnya keduanya harus sinkron. Artinya
untuk dapat melakukan apa yang semestinya harus dilakukan, terlebih dahulu
orang harus mengetahui, menyadari dan memahami nilai-nilai . jika sudah
dipahami maka di laksanakan atau dilakukan. Tapi kenyataan tidak demikian
buktinya dalam praktek kehidupan sehari-hari banyak orang yang memahami nilai
bahkan mungkin mengatahui banyak hal, juga memiliki wawasan keilmuan yang cukup
luas, tetapi tenyata kurang atau tida susila . jadi, tidak secara otomatis
orang yang telah memahami nilai pasti melakukannya. Kejadian seperti itu sangatlah
wajar, karena memahami adalah kemampuan penalaran (kemampuan kognitif),
sedangkan bersedia melaksanakan adalah sikap (kemampuan afektif), yang
masing-masing memiliki kondisi yang berbeda.
5. Dimensi keberagamaan
Pada
hakikanya manusia adalah makhluk religious. Sejak dahulu kala. Sebelum manusia
mengenal agama mereka telah percaya bahwa di luar alam yang dapat dijangkau
dengan perantaraan alat indranya, diyakini akan adanya kekuatan supranatulan
yang menguasai hidup alam semesta ini. Beragama merupakan kebutuhan manusia
karena manusia adalah makhluk yang lemah sehingga memerlukan tempat bertopang.
Manusia memerlukan agama demi keselamatan hidupnya.
c. Pengembangan Dimensi Hakikat Manusi
a. Pengembanagan yang utuh
b. Pengembangan yang tidak utuh
A. Pengembangan yang utuh
Tingkat keutuhan perkembangan dimensi hakikat
manusia ditentukan oleh 2 faktor yaitu
·
Kualitas dimensi hakikat manusia
itu sendiri secara potensial dan
·
Kualitas pendidikan yang disediakan untuk memberikan pelayanan atas perkembangannya.
Pengembangan yang utuh dapat dilihat dari
berbagai segi yaitu:
Keutuhan
terjadi anatara aspek jasmani dan rohani,antara dimensi
keindividualan,kesosialan, dan keberagaman, antara aspek kognitif, afektif, dan
psikomotor.
Keutuhan
pengembangan dimensi hakikat manusia dapat diarahkan kepada pengembangan
dimensi keindividulan, kesosialan, kesusilaan,dan keberagamaan secara terpadu.
Pengembangan
yang sehat terhadap dimensi kesosialan yang lazim disebut pengembang horizontal
membuak peluang terhadap ditingkatkannya hubungan sosial di antara sesama
manusia.
B. Pengembangan yang tidak utuh
Pengembangan
yang tidak utuh terhadap dimensi hakikat manusia akan terjadi di dalam proses
pengembangan jika ada unsure dimensi hakikat manusia yang terabaikan untuk
ditangani, misalnya dimensi kesosialan didominasi oleh pengembangan dimensi
keindividualan ataupun domain afektif didominasi oleh pengembangan kognitif.
Demikian pula secara vertical ada domain tingkah laku yang terabaikan
penanganannya.
Pengembangan
yang tidak utuh berakibat terbentuknya kepribadian yang pincang dan tidak
mantap. Pengembangan semacam ini merupakan pengembangan yang petologis.
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Sasaran pendidikan adalah manusia.
Pendidikan bermaksud membantu peserta didik untuk menumbuhkembangkan
potensi-potensi kemanusiaannya. Potensi kemanusiaan merupakan benih kemungkinan
wujudnya jika ditanam dengan baik, pasti menjadi pohon mangga dan bukannya
menjadi pohon jambu.
manusia itu perlu dimiliki oleh pendidik
adalah karena adanya perkembangan sains dan teknologi yang sangat pesat dewasa
ini, lebih-lebih pada masa mendatang. Memang banyak manfaat yang dapat diraih
bagi kehidupan manusia darinya. Namun, disisi lain tidak dapat diraih bagi
kehidupan manusia darinya. Namun, disisi lain tidak dapat dilakukan akan adanya
dampak negatif, manusiyang terkadang tanpa disadari sangat merugikan bahkan
mungkin mengancam keutuhan eksistensi manusia, seperti ditemukannya bom kimia
dan bakteri,video, dan DBS (Direct Broad-casting System), rekayasa genetika dan
lain-lain, yang digunakan secara tidak bertanggung jawab.
Dalam kenyataan hidup ada dua hal yang muncul dari persoalan nilai, yaitu
kesadarn dan pemahaman terhadap nilai dan kesanggupan melankksanakan nilai.
Idealnya keduanya harus sinkron. Artinya untuk dapat melakukan apa yang
semestinya harus dilakukan, terlebih dahulu orang harus mengetahui, menyadari
dan memahami nilai-nilai . jika sudah dipahami maka di laksanakan atau dilakuka
B. Saran
a. Kemampuan
bereksistensi perlu dibina melalui pendidikan. Peserta didik di ajar agar
belajar dari pengalamannya, belajar mengantisipasi sesuatu keadaan dan peristiwa,
belajar melihat prospek masa depan dari sesuatu, serta mengembangkan daya
imajinasi kreatif sejak dari masa kanak-kanak.
DAFTAR PUSTAKA
Beerling, F. 1951 . Filsafat Dewasa ini. Jakarta: Balai
Pustaka
Dahler, F. 1971. Asal dan Tujuan Manusia; (Teori Evolusi).
Semarang: Kanisius
Mayor Polak, J.B.A.F. 1958. Sosiologi. Jakarta:Ichtiar
Raka Joni. T. 1981. Wawasan Kependidikan. Jakarta: Depdikbud
Sandy. Martin. 1985. Pendidikan Manusia. Bandung: Penerbit
Alumni

Tidak ada komentar:
Posting Komentar